Aurora's Folklore
sumber : unknown, 2016
Aurora atau cahaya kutub merupakan fenomena alam berupa bias pancaran cahaya yang menyala di lapisan ionosfer sebagai akibat dari adanya interaksi antara medan magnetik yang dimiliki planet dengan partikel bermuatan yang dipancarkan oleh matahari. Aurora memiliki berbagai macam warna, diantaranya warna hijau, ungu, merah, kuning, magenta, nila, indigo, biru, jingga, oranye serta lime.
Aurora selalu terjadi di bagian kutub bumi. Kutub
bumi menerima cahaya matahari yang sedikit dan merupakan bagian terdingin dari
bumi. Bumi memiliki dua kutub, yaitu kutub utara dan kutub selatan yang
merupakan pusat dari kutub magnetik. Aurora yang terjadi di kutub utara bumi
dinamakan Aurora borealis. Sedangkan aurora yang terjadi di kutub selatan bumi
dinamakan Aurora australis.
Aurora ternyata memiliki beberapa sejarah dan
dongeng yang berkaitan dengan dewa-dewi Yunani dan masyarakat kuno. Aurora
berarti bahasa latin untuk fajar dan Dewi Fajar dalam mitologi Romawi dan puisi
latin. Seperti Eos Yunani dan Rigvedic Ushas, Aurōra melanjutkan nama dewi
fajar Indo-Eropa sebelumnya, Hausos.
Berdasarkan mitologi Romawi, Aurōra memperbarui
dirinya setiap pagi dan terbang melintasi langit, mengumumkan kedatangan
Matahari. Orangtuanya fleksibel: untuk Ovid, dia bisa sama-sama pallantis,
menandakan putri Pallas, atau putri Hyperion. Ia memiliki dua saudara kandung,
saudara laki-laki (Sol, Matahari) dan seorang saudara perempuan (Luna, Bulan).
Penulis Romawi jarang meniru Hesiod dan kemudian penyair Yunani dengan menamai
Aurōra sebagai ibu dari Anemoi (Angin), yang merupakan keturunan Astraeus, ayah
dari bintang-bintang.
Aurōra paling sering muncul dalam puisi seksual
dengan salah satu kekasih fananya. Sebuah mitos yang diambil dari bahasa Yunani
oleh penyair Romawi mengatakan bahwa salah satu kekasihnya adalah pangeran
Troya, Tithonus. Tithonus adalah seorang fana, dan karena itu akan menua dan
mati. Ingin bersama kekasihnya untuk selama-lamanya, Aurōra meminta Jupiter
untuk memberikan keabadian kepada Tithonus. Jupiter mengabulkan keinginannya,
tetapi dia gagal meminta remaja kekal untuk menemani keabadiannya, dan dia
menjadi tua selamanya. Aurōra mengubahnya menjadi jangkrik.
Nama Aurora juga disebutkan di dalam berbagai
literatur dan musik, seperti diantaranya Shakespeare’s Romeo dan Juliet,
Montague mengatakan bahwa putrinya yang sedang sakit cinta pada Romeo, berikut
ini.
But all so soon as the
all-cheering sun
Should in the furthest east begin
to draw
The shady curtains from Aurora's bed,
Away from the light steals home
my heavy son
Dalam
lagu-lagu tradisional rakyat Irlandia, seperti "Lord Courtown",
berikut ini.
One day I was a-musing down by the Courtown banks
The sun shone bright and clearly, bold Neptune played a prank...
There was Flora at the helm and Aurora
to the stern
And all their gallant fine seamen, their course for to steer on.
Dalam puisi
"Tithonus" oleh Alfred, Lord Tennyson, dideskripsikan sebagai
berikut.
Once more the old mysterious glimmer steals
From thy pure brows, and from thy shoulders pure,
And bosom beating with a heart renewed.
Thy cheek begins to redden through the gloom,
Thy sweet eyes brighten slowly close to mine,
Ere yet they blind the stars, and the wild team
Which love thee, yearning for thy yoke, arise,
And shake the darkness from their loosened manes,
And beat the twilight into flakes of a fire
Di dalam lagu lagu
Vespertine björk, Aurōra digambarkan sebagai berikut.
Aurora
Goddess sparkle
A mountain shade suggests your shape
I tumble down on my knees
Fill my mouth with snow
The way it melts
I wish to melt into you

Komentar
Posting Komentar